Minggu, 01 April 2018


     Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM)
Oleh Hermanudin
1.             Abstrak
Pembelajaran Aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan  (paikem) merupakan salah satu model pembelajaran yang inovatif, kritis,  dan logis. Model pembelajaran  ini inovatif karena diperlukan ide-ide kreatif dan inovatif guru dalam memilih metode dan merancang strategi pembelajaran. Kritis karena menuntun peserta didik belajar kritis untuk mengetahui, melakukan, bekerjasama dan mandiri dalam belajar.   Logis karena menuntun peserta didik berlogika dalam memecahkan persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapinya. Model Pembelajaran ini berorientasi pada Student Center, yang bermakna bahwa peserta didiklah yang aktif dalam pembelajaran.
Model Paikem  melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi, yakni peserta didik berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan peserta didik, multi-media, referensi, lingkungan dsb. Kedua, proses Komunikasi , peserta didik mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan peserta didik lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play. Ketiga, proses Refleksi, peserta didik memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan. Keempat, proses Eksplorasi, peserta didik mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara.
Kata kunci : Model Paikem

2.             Pengertian dan Hakikat
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM) adalah Model pembelajaran yang menggambarkan keseluruhan proses belajar mengajar yang berlangsung menyenangkan dengan melibatkan peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif selama proses pembelajaran.  Pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapat berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya.  Aktif juga dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung sehingga belajar merupakan proses aktif peserta didik dalam membangun pengetahuannya sendiri.
Inovatif maksudnya guru diharapkan memberikan hal-hal baru yang membuat peserta didik tertarik untuk belajar. Inovatif juga dimaknai peserta didik dapat menemukan pengalaman-pengalaman baru dan menarik dalam belajar.  Dari kreativitas peserta didik diharapkan ada inovasi-inovasi baru yang akan muncul selama proses pembelajaran.
Kreatif  dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan peserta didik. Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk merangsang kreatifitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir kritis. Berpikir kritis harus dikembangkan dalam proses pembelajaran agar peserta didik terbiasa mengembangkan kreativitasnya.
 Efektif adalah pembelajaran menghasilkan  apa yang harus dikuasai oleh  peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung seperti tercantum dalam tujuan akhir pembelajaran. Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada peserta didik, membentuk kompetensi, serta mengantarkan mereka kepada tujuan yang ingin dicapai secara optimal.
Menyenangkan berkenaan dengan suasana belajar-mengajar yang kondusif sehingga peserta didik memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Pembelajaran yang menyenangkan ini menuntut adanya pola hubungan yang baik antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri sebagai mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari peserta didik. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis dan tidak ada beban, baik guru maupun peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran.  Proses pembelajaran yang dilakukan dengan aktif dan menyenangkan diharapkan lebih efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Model Paikem memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan pendapat atau ide ketika dihadapkan kepada sebuah problema yang pemecahannya dilakukan dengan berbagai keterampilan dan dibantu sumber-sumber lain yang relevan. Model ini meletakkan pendidikan pada empat dasar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning  to do), belajar hidup kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Inti dari Paikem terletak pada kemampuan guru untuk memilih strategi dan metode pembelajaran yang inovatif. Strategi pembelajaran yang dapat membuat peserta didik aktif adalah strategi pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student centered learning). Dalam penerapan model pembelajaran ini, guru berperan sebagai fasilitator yaitu memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Pengetahuan diperoleh peserta didik berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan ditransfer pengetahuan dari guru. 
Pembelajaran yang menyenangkan dapat terjadi apabila hubungan interpersonal antara guru dan peserta didik berlangsung baik. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat suasana pembelajaran berlangsung menyenangkan. Dalam model Paikem, pembelajaran yang menyenangkan dapat dicapai karena peserta didik aktif selama proses pembelajaran. Selain itu, motivasi belajar juga memiliki andil yang tinggi terhadap suasana senang belajar. Supaya motivasi belajar tetap tinggi, guru perlu memberikan umpan balik terhadap hasil belajar yang telah dicapai atau tugas yang telah diselesaikan oleh peserta didik.

3.             Kedudukan guru pada model Paikem
Pada model paikem guru tidak banyak melakukan intervensi pada kegiatan peserta didik. Menurut Kasmad dan Pratomo(2012) dalam Arifin dan Haryono (2016),  guru hanya berperan sebagai fasilitator, motivator, guider, dan evaluator. Sebagai fasilitator guru hanya mengarahkan, menyediakan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik. Peserta didik diberi kesempatan untuk mencari,  mengasah sendiri materi yang diberikan oleh guru dengan menggunakan kemampuan dan keterampilan,  pengalaman dan sumber-sumber lain yang mendukung terhadap materi sebagai fokus kajian mereka untuk memperoleh pengalaman baru. Sebagai motivator guru berupaya mendorong dan menstimulasi peserta didik agar dapat melakukan perbuatan belajar lebih optimal dan bermakna. Materi yang diberikan harus mengandung banyak unsur masalah dan solusinya, menimbulkan penasaran, dan memberikan alternatif jawaban yang luas. Guru sebagai guider berperan mengarahkan peserta didik bila menemui kesulitan atau hambatan dalam pembelajaran. Peserta didik sebagai student center diberi kebebasan untuk mencari dan menemukan sendiri dalam proses pembelajaran. Guru sebagai evaluator memberikan penilaian terhadap kegiatan peserta didik baik secara individu maupun kelompok. Penilaian oleh guru meliputi aktivitas, kerjasama, tes perbuatan maupun lisan.

4.             Strategi dan langkah-langkah model Paikem
Menurut Arifin dan Haryono (2016:208) Strategi pengajaran merupakan siasat guru dalam merancang program pengajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar agar dapat dicapai secara efektif dan efesien. Peserta didik akan belajar lebih optimal dan bermakna jika program  pengajaran  dirancang dengan baik. Sebagus apapun program pengajaran tanpa dirancang dengan baik, akan berdampak kurang optimal.
Dalam menentukan strategi pengajaran, ada dua hal yang patut dicermati. Pertama, strategi pengajaran pada rencana tindakan atau rangkaian tindakan termasuk merumuskan tujuan, materi, metode, media, pemanfaatan sumber-sumber, dan evaluasi. Kedua, strategi pada tindakan semua yang telah direncanakan difokuskan untuk pencapaian tujuan.
Dalam menerapkan model Paikem, perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1.             Pemanasan dan apersepsi
Pemanasan dan apersepsi perlu dilakukan untuk menjajaki pengetahuan peserta didik, memotivasi peserta didik, dengan menyajikan materi yang menarik, dan mendorong mereka untuk mengetahui berbagai hal baru. Pemanasan dan apersepsi ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a.       Mulailah pengajaran dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami peserta didik.
b.      Motivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi kehidupan mereka.
c.       Gerakkan peserta didik agar tertarik dan bernafsu untuk mengetahui hal-hal baru.
2.             Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan pengajaran untuk mengenalkan bahan dan mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Hal tersebut dapat ditempuh sebagai berikut:
a.       Perkenalkan materi standar dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik;
b.      Kaitkan materi standar dan kompetensi dasar yang baru dengan pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
c.       Pilihlah metode yang paling tepat, dan gunakan secara bervariasi untuk meningkatkan penerimaan peserta didik terhadap materi standar dan kompetensi baru.
3.             Konsolidasi pembelajaran
Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembentukan kompetensi dan mengaitkan kompetensi dengan kehidupan peserta didik. Konsolidasi pembelajaran ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a.       Libatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi standar dan kompetensi baru.
b.      Libatkan peserta didik secara aktif dalam proses pemecahan masalah, terutama dalam masalah-masalah aktual.
c.       Letakkan penekanan pada kaitan stuktural, yaitu kaitan antara materi standar dan kompetensi baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan dalam lingkungan masyarakat.
d.      Pilihlah metode yang paling tepat sehingga materi dapat diproses menjadi kompetensi peserta didik.
4.             Pembentukan Kompetensi sikap, dan perilaku.
Pembentukan kompetensi sikap dan perilaku peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
a.       Doronglah peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian, dan kompetensi yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Praktikkan pembelajaran secara langsung agar peserta didik dapat membangun kompetensi sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.
c.       Gunakan metode yang tepat agar terjadi perubahan kompetensi sikap dan perilaku peserta didik.
5.             Penilaian kegiatan
Penilaian kegiatan dapat dilakukan sebagai berikut:
a.       Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik.
b.      Gunakan hasil penilaian tersebut untuk menganalisis kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam memberikan kemudahan kepada peserta didik.
c.       Pilihlah metode yang paling tepat sesuai dengan kmpetensi yang ingin dicapai.

Tabel 1 Sintaks Model PAIKEM


Tahap
Kegiatan pembelajaran
Tahap 1
Pendahuluan
1 Mengaitkan     pembelajaran     sekarandengan pembelajaran sbelumnya.
2 Memotivasi siswa
3. Memberika pertanyaa kepad sisw untumengetahui konsep-konsep prasyarat yang sudah dikuasai oleh siswa.
4 Menjelaskan tujuan pembelajaran.
Tahap 2
Presentasi materi
1 Presentasi konsep-konsep yang harus dikuasai olesiswa.
2 Presentasi alat dan bahan yang dibutuhkan.
Tahap 3
Membimbing    kelompobelajar
1 Menempatkan siswa ke dalam kelompok belajar.
2 Memberi Lembar Kerja Siswa (LKS)
3 Menjelaska langkah-langkah kegiata yan akandilaksanakan.
4 Memberikan   bimbingan   pada   kelompok   yangmembutuhkan
5 Mengumpulkan hasil kerja kelompok
Tahap 4
Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik
1 Memberikan   kesempatan   pada   kelompok   untuk
mempresentasikan hasil kerjanya
2 Memberikan kesempatan pada kelompok lain untukmenanggapi hasil presentasi
3 Memberikan konfirmasi terhadap hasil kerja siswa
Tahap 5
Pengembangandanpenyerapan
1 Membimbing sisw menyimpulkan seluru materi
pembelajaran yang telah diperajari
2 Memberikan tugas rumah
Tahap 6
Menganalisis damengevaluasi
1 Membantu siswa untuk melakukan refleksi
2 Melaksanakan  penilaia pad akhir  pembelajaran dalam bentuk tes.
(habibah Umi, 2012: 27)


  
Tabel 2. Kreteria PAIKEM dalam Pembelajaran

KreteriAktif
Kreteria Kreatif
Siswmelakukan sesuatdengan
memikirkan apa yang mereklakukan seperti:
· Menulis
· Berdiskusi
· Berdebat
· Memecahkan masalah
· Mengajukan pertanyaan
· Menjawab pertanyaan
· Menjelaskan
· Menganalisis
· Berpikir kritis
· Memecahkan masalahsecarkonstruktif
· Ide/gagasan yang berbeda
· Berpikir konvergen (pemecahan
masalah yang “benar” atau terbaik”)
· Berpikir divergen (beragam alternatif pemecahan masalah)
· Fleksibelitas dalam berpikir (melihat dari berbagai sudut pandang)
· Berpikir terbuka
Kreteria Inovatif
Kreteria Menyenangkan
Ketercapaiatarget hasil belajar,
dapat berupa:
· Siswmenguasai konsep
· Siswmampu mengaplikasikan konsep pada masalah sederhana
· Siswmenghasilkan produtertentu
· Siswa termotivasi untuk belajar
Pembelajaran berlangsung secara:
· Interaktif
· Dinamik
· Menarik
· Menggembirakan
· Atraktif
· Menimbulkan inspirasi
Sumber: Adopsi dari Indrawati daSetiawan (2009: 18).




5.        Contoh penerapan model Paikem dalam pembelajaran
Tema pembelajaran: Mengapresiasi dan mengkreasikan Fabel
               Kompetensi Dasar
3.11 Mengidentifikasi informasi tentang fabel/ legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.
          4.11  Menceritakan kembali isi fabel/ legenda daerah setempat.
Tujuan pembelajaran:
1.      Peserta didik dapat menjelaskan tokoh dan karakter yang ada dalam cerita fabel.
2.      Peserta didik dapat menjelaskan latar cerita fabel.
3.      Peserta didik dapat menceritakan kembali isi fabel yang dibacanya
4.      Peserta didik dapat menjelaskan pesan moral dari cerita fabel yang dibacanya

Langkah-langkah pembelajaran:
1.      Pendahuluan
1.      Guru memperlihatkan buku-buku yang berisi cerita fabel atau legenda
2.      Guru bertanya jawab dengan peserta didik tentang cerita fabel atau legenda yang pernah dibaca atau di dengar siswa.
3.      Guru memberikan kesempatan pada beberapa orang peserta didik untuk menceritakan fabel atau legenda yang sudah dibaca atau di dengar sebelumnya.
4.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan proses belajar mengajar.
5.      Guru membentuk kelompok diskusi yang beranggotakan 4  atau 5 orang.

2.      Kegiatan inti.
1.      Peserta didik membentuk kelompok sesuai dengan yang sudah direncanakan
2.      Masing-masing kelompok menunjuk ketua dan sekretaris.
3.      Guru membagikan buku cerita fabel dan kertas kerja kepada masing-masing kelompok.
4.      Setiap kelompok membaca buku dan mendiskusikan jawaban dari kertas kerja yang sudah dibagikan.
5.      Guru membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan pertanyaan terbuka yang membutuhkan beragam jawaban.
6.      Peserta didik belajar menemukan jawaban-jawaban dari pertanyan terbuka tersebut.
7.      Peserta didik membuat kesimpulan hasil diskusi kelompok
8.      Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja di depan kelas secara bergiliran.
9.      Setiap ada pertanyaan atau jawaban siswa selalu diberikan aplus dengan tepuk tangan
10.  Kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi.
11.  Setiap pergantian kelompok untuk maju selalu dimulai dengan yel-yel yang membangkitkan semangat
12.  Guru berperan sebagai moderator dalam diskusi tersebut

3.      Kegiatan penutup.
1.      Dibawah bimbingan guru, Peserta didik merefleksi pembelajaran yang sudah dilakukan
2.      Guru dan peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang sudah berlangsung
3.      Guru memberikan pesan-pesan moral yang ada hubungannya dengan pembelajaran yang sudah berlangsung.
4.      Guru menyampaikan rencana materi pelajaran pada pertemuan yang akan datang.
5.      Guru dan peserta didik menutup pembelajaran

Contoh Lembar kerja Siswa:
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.      Peristiwa apa yang terjadi dalam dongeng tersebut?
2.      Apa judul cerita fabel yang Anda baca?
3.      Siapa tokoh ceritanya?
4.      Bagaimana watak masing-masing tokoh tersebut?
5.      Bagaimana jalan cerita Fabel tersebut?
6.      Cerita fabel merupakan sindiran untuk manusia, ada manusia cerdik seperti kancil, ada yang mudah dibodohi seperti karakter buaya, ada yang bijaksana seperti karakter kura-kura, menurut Anda, dalam dunia nyata adakah orang yang mempunyai sifat atau karakter seperti tokoh cerita fabel yang sudah Anda baca tersebut, berikan penjelasanmu.
7.      Bagaimana menurutmu jika mengahadapi orang-orang seperti dalam cerita fabel tersebut?
8.      Pesan moral apa yang dapat kamu Ambil dari cerita fabel tersebut?



























Daftar Pustaka
Arifin, Zainal dan Anung Haryono. 2016. Metodologi pengajaran bahasa dan sasstra. Tangerang: Pustaka Mandiri.
Sardiman. 2014. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Mulyatiningsih, Endang. 2010. Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dipetik 17 3, 18. Dari pencarian http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dra-endang-mulyatiningsih-mpd/5cmodel-pembelajaran-paikem22810.pdf
Dipetik 17 3, 18. Dari pencarian http://digilib.unila.ac.id/6338/18/BAB%20II.pdf



Minggu, 08 Oktober 2017

Minggu, 06 Agustus 2017

Senin, 03 April 2017

Pencerahan

Selasa, 28 Maret 2017

MENGENALI JIWA

Dalam percakapan sehari-hari, pemakaian kata JIWA sering tercampur dengan kata NYAWA. Sebagai misal, “Kecelakaan di jalan tol Cikampek merenggut lima jiwa.” Kalimat ini lazim pula diucapkan “Lima nyawa melayang ketika terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan tol Cikampek.” Padahal jika diperhatikan secara teliti makna kata JIWA tidak persis sama dengan NYAWA. Pemakaian kata JIWA dan NYAWA yang kadangkala tumpang tindih atau tidak konsisten membuat makna kedua kata ini menjadi ambigu.

Kehadiran NYAWA di jasad ditandai dengan adanya NAFAS. Orang yang tidak bernafas, yakni udara tidak lagi keluar masuk melalui hidungnya berarti ia sudah tidak bernyawa. Orang yang demikian dikatakan mati yang dalam bahasa sopan disebut ‘wafat’. Jasad yang tadinya dihidupkan Allah setelah tidak bernafas lagi disebut ‘mayat’. Hal ini sedikit berbeda dengan JIWA yang kehadirannya ditandai dengan pikiran. Buktinya orang yang mengalami gangguan jiwa adalah orang yang juga mengalami gangguan pikiran. Namun dapat dipastikan selagi seseorang masih dihidupkan sebagai manusia, tidak ada JIWA jika tidak ada NYAWA.

Telah disinggung bahwa yang dikatakan DIRI adalah JASAD dan JIWA. Dengan kata lain, jasad dan jiwa adalah bagian dari diri. Jasad terdiri dari kepala, badan, anggota badan dan organ-organ dalam lainnya seperti hati, paru-paru dan jatung. Sedangkan JIWA terdiri dari pikiran dan perasaan. Berbeda dengan jiwa, jasad disebut juga tubuh kasar karena jasad tersebut dapat dilihat dan disentuh. Tidak demikian halnya dengan jiwa yang karena tidak terlihat dan tidak pula dapat disentuh secara fisik disebut tubuh halus.

Yang dapat dipahami tentang JIWA umumnya adalah sebatas PIKIRAN dan PERASAAN, tidak lebih dari itu. Jadi berbicara soal JIWA berarti berbicara tentang PIKIRAN dan PERASAAN. Sebagai contoh, orang yang berjiwa KASAR antara lain adalah orang yang pikiran dan perasaannya tidak peka terhadap keadaan orang lain. Ia dapat saja mengucapkan kata-kata atau melakukan tindakan mengganggu ketenangan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, orang berjiwa BESAR adalah orang yang sabar dan bijaksana sehingga orang-orang yang di sekelilingnya merasa nyaman dengan kehadirannya di dekat mereka.

Perbedaan lain yang jelas dan masuk akal antara jasad dan jiwa adalah orang yang mengalami gangguan pada jasad dirawat di Rumah Sakit Umum dan ditangani oleh dokter umum. Hal ini berbeda dengan orang yang mengalami gangguan pada mental atau jiwa dirawat di Rumah Sakit Jiwa dan ditangani oleh dokter jiwa atau psikolog. Yang menarik adalah bahwa berbeda dengan jasad dan jiwa, nyawa sebagai tanda dari keberadaan RUH tidak pernah mengalami gangguan. Ini artinya jiwa dan nyawa tidak sama. Baik jasad berupa badan maupun jiwa berupa pikiran dan perasaan sama-sama aktif karena keberadaan dari RUH.

Disebabkan PIKIRAN dan PERASAAN tidak terlihat melalui mata zahir, maka pikiran dan perasaan hanya dikenali oleh pemilik pikiran dan pemilik perasaan itu saja. Itupun terjadi ketika pikiran dan perasaan berada dalam kendali pemilik pikiran dan pemilik perasaan. Pengendalian pikiran dan perasaan berlangsung ketika pemilik pikiran dan pemilik perasaan sedang dalam keadaan TENANG dan WASPADA. Dalam keadaan kalut, pemilik pikiran dan pemilik perasaan biasanya tidak mengenal dirinya yang notabene adalah pikiran dan perasaan atau jiwanya. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin tindakan nekat dan berbahaya bisa saja terjadi karena dalam keadaan seperti ini pikiran dan perasaan mengambil alih pimpinan.

Selain juga telah disinggung di atas, karena pikiran dan perasaan tidak dapat dilihat, maka yang dapat diamati dari pikiran dan perasaan seseorang adalah REAKSI dari pikiran dan perasaannya. Tanpa memperhatikan REAKSI, seseorang kesulitan mengenali pikiran dan perasaan orang lain secara akurat, kecuali memprediksi atau menduga-duga saja. Orang yang berpikiran kotor terlihat dari ucapan dan tindakannya. Ia akan sering berbicara dan bertingkahlaku jorok.

Demikian pula halnya orang baru jatuh cinta kondisi kejiwaannya dapat dikenali dari ucapan dan tindakan-nya. Dari sisi ucapan, ia akan sering bercerita tentang kekasihnya dan dari sisi tindakan ia akan sering terlihat berdandan dan mematut-matut dirinya di depan kaca. Bahkan, kadang kala ia tersenyum sendiri. Semua yang dilakukannya adalah REAKSI atau MANIFESTASI dari yang sedang ia pikirkan dan rasakan, karena itulah gambaran dari keadaan kejiwaannya saat itu. Dengan kata lain, itulah yang terlihat sehingga dapat dikenali.

Selanjutnya, JASAD dan JIWA tidak dapat berfungsi tanpa Ruh karena dari keberadaan Ruh inilah jasad dan jiwa menjadi aktif. Tanpa diaktifkan oleh Ruh, jasad adalah mayat. Pun tanpa diaktifkan oleh Ruh maka pikiran dan perasaan tidak berfungsi. Jika diibaratkan dengan sebuah telepon genggam (handphone), JASAD adalah casing, perangkat lunaknya yang terdiri dari program atau aplikasi adalah JIWA. Tanpa baterai, perangkat lunak (software) tidak berfungsi. Singkatnya, JASAD dan JIWA dihidupkan karena RUH. Ruhlah yang mengaktifkan tubuh halus seperti pikiran dan perasaan sehingga jasad pun aktif. Dengan memahami keberadaan RUH yang mengaktifkan pikiran dan perasaan dapat dipahami bahwa JIWA dihidupkan karena keberadaan RUH.

Untuk mendapatkan pemahaman lebih jelas tentang JIWA yang terdiri dari PIKIRAN dan PERASAAN yang teraktifkan karena RUH, berikut ini akan dibahas serba-serbi pikiran dan perasaan. Selain dari semakin memperjelas pemahaman JIWA, pembahasan ini dapat pula dijadikan dasar memahami makna KESUCIAN JIWA yang memiliki peran PENTING dalam mencapai ketenangan jiwa.“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS asy Syams (91) : 9 dan 10). Secara singkat, salah satu dari keberuntungan dimaksud adalah tercapainya KETENANGAN JIWA.

KEHIDUPAN YANG KERUH diyakni terjadi karena ketiadaan kesucian jiwa. Jiwa yang kotor akan menjadi pemicu seseorang berpikir dan berucap serta bertindak kotor. Orang yang memakai kacamata berlensa hitam akan melihat dunia dengan segala pernak-pernik isinya tampak gelap. Bahkan ucapan seperti sumpah serapah atau ucapan hinaan hanya keluar dari mulut orang yang pikirannya kotor.

Pencerahan...

Selasa, 28 Maret 2017

MENGENALI PIKIRAN

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa manusia adalah pikirannya, karena tanpa kemampuan berpikir manusia tidak berarti apa-apa sama sekali. Makhluk lain seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak dikaruniai kemampuan berpikir ternyata dengan mudah dikuasai manusia. Dengan kata lain, karena kehadiran PIKIRAN manusia menjadi makhluk berkuasa. Bahkan, dengan menggunakan kekuatan pikiran, apalagi salah menggunakannya, manusia akan menguasai sesamanya yang berujung pada tindakan dimana yang kuat menindas yang lemah. Dari bahasan singkat ini tampak jelas, sekalipun pemahaman kata JIWA sangat sederhana, yakni terdiri dari PIKIRAN, namun apabila tidak dapat dikendalikan, pikiran tersebut akan menjelma menjadi MONSTER, alat PEMBUNUH dan PENGHANCUR. Sebaliknya, jika semakin banyak orang yang berpikiran benar karena mampu mengendalikan pikirannya, maka semakin banyak manfaat yang diperoleh dari pikiran benar tersebut.

Pentingnya peranan pikiran bagi manusia terlihat juga pada orang gila yang karena mengalami gangguan di pikiran dapat membuatnya bertingkah laku layaknya seperti hewan. Adalah pemandangan lumrah melihat orang gila telanjang atau mengais makanan di tempat sampah, bahkan mengganggu orang-orang yang berada di dekatnya. Ganguan pikiran telah menjadikannya kehilangan kesadaran sebagai makhluk yang lebih tinggi derajadnya dibandingkan dengan dari makhluk lain. Dalam makna yang lebih luas, gangguan pikiran bukan hanya bagi orang yang gila, pikiran kotor juga merupakan indikator gangguan pikiran karena dari pikiran yang kotor timbul ucapan dan tindakan yang tentunya juga kotor.

Membahas apa yang dimaksud dengan PIKIRAN tidak dapat dilepaskan dari pembahasan OTAK MANUSIA, sebab otak adalah tumpuan pikiran sebagaimana badan, kaki dan tangan menjadi tumpuan gerakan. Tanpa otak, manusia tidak dapat berpikir. Orang yang mengalami gangguan di otak umumnya juga mengalami kelainan berpikir. Kebenaran hal ini lagi-lagi tampak pada orang gila yang rata-rata mengalami kerusakan dibagian otak. Gangguan pada otak tersebut dapat membuat susunan informasi yang telah menjadi nilai-nilai kehidupan di dalamnya mengalami kekacauan, sehingga pikiranpun menjadi kacau atau tidak berfungsi secara normal.

Sebagaimana mata berfungsi sebagai alat melihat dan telinga berfungsi sebagai alat untuk mendengar, otak berfungsi sebagai alat untuk berpikir. Otak yang terdiri dari sejenis lemak di dalam batok kepala dengan syaraf yang tak terhitung merupakan wadah penyimpanan beragam informasi. Informasi berupa nilai atau norma tentang kehidupan karena keberadaan Ruh menjadi dapat disimpan di dalam otak dan dapat pula diaktifkan ketika dikehendaki. Dengan aktifnya pikiran berupa informasi di dalam otak terjadilah proses berpikir yang ditandai dengan adanya aktivitas seperti mengingat, menilai dan membandingkan serta memformulasikan.

Disebabkan agar dapat berpikir baik sangat tergantung pada informasi yang tersimpan di dalam otak berupa memori, maka penginstalan butir-butir informasi ke dalam otak menjadi sangat penting sebagai dasar untuk dapat berpikir. Informasi demi informasi yang diterima otak akan berakumulasi dan berkembang menjadi latar belakang pengetahuan. Semakin banyak dan semakin baik informasi yang terserap dan tersimpan di syaraf-syaraf otak seseorang berdasarkan pengalaman dan pendidikannya, maka semakin baik pula daya pikirnya. Buktinya, bayi dan anak-anak yang masih memiliki keterbatasan informasi yang diperoleh dari pengalaman memiliki keterbatasan berpikir dibandingkan dengan orang dewasa. Demikian juga halnya bagi orang yang berpendidikan rendah dan yang berpendidikan tinggi memiliki kemampuan berpikir berbeda. Dengan kata lain, kemampuan berpikir terkait dengan pengaktifan latar belakang pengetahuan yang disebut memori.

Selain dari latar belakang pengetahuan berupa hasil pengalaman dan pendidikan, cara mengolah informasi yang sudah mengendap di otak berupa memori juga menentukan kemampuan berpikir seseorang. Orang yang terlatih berpikir runtut atau sistematis memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kemampuan berpikir sistematis. Berdasarkan pengalaman, sering ditemukan orang yang cara berpikirnya melompat-lompat bahkan tidak terhubung dari satu ide ke ide lainnya. Sehingga orang yang mendengarnya kesulitan mengikuti pokok-pokok pembicaraannya. Sedangkan cara berpikir yang baik ditandai dengan, selain kejelasan informasi juga ditandai dengan keteraturan pesan yang disampaikan sehingga pembicaraannya menjadi mudah diikuti atau dipahami.

Kemampuan berpikir akan terbentuk setelah terjadinya penyimpanan informasi berupa nilai-nilai kehidupan yang diperoleh melalui proses mengalami dan proses belajar (pengalaman dan pendidikan) seperti sempat disinggung di atas. Hasil dari proses mengalami dan belajar ini akan tersimpan dalam bentuk memori yang menjadi bagian dari pikiran. Tanpa memori berupa informasi-informasi yang telah mengendap di dalam otak, seseorang tidak dapat berpikir. Anak seorang petani biasanya mudah berpikir tentang cara bercocok tanam jika dibandingkan dengan anak pedagang yang dalam kesehariannya sibuk melayani para pelanggan di toko. Anak petani memiliki pengalaman cara bercocok tanam karena ia juga mendapatkan pendidikan tentang bercocok tanam sekalipun pendidikan tersebut bersifat informal. Hal ini juga berlaku sebaliknya terhadap anak pedagang. Dengan ungkapan lain, pembentukan proses berpikir berlangsung melalui proses pengalaman dan pendidikan yang dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan.

Proses berpikir seperti telah dijelaskan belum memadai untuk dijadikan landasan bagi seseorang supaya dapat BERPIKIR BENAR. Sebab, hasil dari berpikir adalah BENAR dan SALAH. Orang yang memiliki kekuatan berpikir tidak berarti bahwa ia juga senantiasa berpikir benar. Pencuripun mesti berpikir sebelum melakukan aksinya. Walaupun ia mengetahui bahwa tindakannya salah, namun pencuri mesti terlebih dahulu memikirkan cara menyelamatkan diri jika seandainya ia ketahuan atau tertangkap ketika sedang mencuri. Oleh karena itu, selain dari berpikir seseorang hendaknya juga meng-gunakan akalnya. Jika seorang pencuri menggunakan AKALNYA, maka ia tidak akan mencuri. Disebabkan tidak menggunakan akal inilah pencuri nekad mencuri. Dengan kata lain, orang yang BERPIKIR belum tentu menggunakan AKAL. Inilah alasan ditemukan istilah AKAL PIKIR dalam pembicaraan sehari-hari karena kata PIKIR saja belum cukup untuk mengungkapkan hal seperti yang dijelaskan, sehingga kata AKAL tetap ditambahkan agar makna ujaran lebih jelas lagi.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, bahwa yang dimaksud dengan PIKIRAN itu sebenarnya adalah HASIL dari pengolahan informasi di dalam otak yang dipicu oleh stimulus dari luar. Artinya, pikiran itu tidak saja terdiri dari memori yang tersimpan di dalam jaringan syaraf-syaraf otak, tetapi juga dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Memori tanpa rangsangan sebagai pemicu, maka memori tersebut tidak ubahnya seperti data atau informasi di GOOGLE yang tentunya tidak bermanfaat jika tidak diakses terlebih dahulu. Melalui rangsangan dari luar, memori di dalam otak dapat diaktifkan dan terjadilah proses berpikir yang antara lain adalah prosespenyaringan dan pengolahan informasi.

Berbeda dengan proses berpikir yang menghasilkan perkiraan benar atau salah, masih adalagi bagian dari pikiran yang diterangi Cahaya dari keberadaan Ruh. Pikiran yang demikian dapat melahirkan tindakan yang lebih baik. Bagian pikiran yang terterangi ini disebut dengan AKAL. Orang yang memilih menggunakan akal dalam kehidupannya akan berada dalam lingkupan KESADARAN sehingga dapat dikatagorikan sebagai orang yang TERCERAHKAN. Dengan kata lain, orang yang pikirannya disinari Cahaya dari Ruh tadi dapat membedakan antara benar dan salah.

Pencerahan..

Selasa, 28 Maret 2017

MENGENALI PERASAAN

MENGENALI PERASAAN tidak persis sama dengan MENGENAL PERASAAN. Tujuan dari membedakan kedua istilah ini adalah agar tampak pembatas antara kedua ungkapan. “Mengenali perasaan” bermakna bahwa yang mengenali lebih besar daripada perasaan itu sendiri. Pemahaman ini tentunya tidak benar-benar sama dengan “mengenal perasaan” yang menyisakan kemungkinan makna bahwa perasaan lebih besar dari yang mengenal perasaan tersebut. Jika perasaan lebih besar, maka pengendaliannya menjadi sulit atau bahkan mustahil. Pengertian ini berlaku juga terhadap ungkapan mengenali pikiran dan mengenali jiwa serta mengenali diri’.

Pikiran dan perasaan tidak dapat dipisahkan, keduanya saling terkait karena saling mempengaruhi. Keadaan pikiran yang kacau berdampak pada perasaan, karena kekacauan pikiran itu menyebabkan ketidaknyamanan pada area perasaan. Sebaliknya, perasaan yang nyaman memungkinkan terkondisinya pikiran yang juga baik. Pikiran yang berupa sejumlah informasi tersimpan di jaringan syarat-syaraf otak dan disebut dengan istilah ‘memori’ karena sesuatu atau lain hal berupa stimulus atau rangsangan dari luar dapat menimbulkan perasaan. Sebagai misal, orang yang dibesarkan di lingkungan keluarga atau masyarakat yang sopan dan lembut akan bereaksi saat ia bertemu dengan orang yang berprilaku kasar terhadap dirinya. Reaksi yang timbul karena terjadinya benturan nilai-nilai kehidupan yang ia anut dapat menjadikan dirinya tertekan. Akibatnya, ia bisa saja menjadi emosional karena tekanan perasaan yang dipicu melalui pikirannya. Emosi yang dipicu pikiran ini disebut PERASAAN yang karena tidak terkendali memungkinkan timbulnya rasa benci, dan bahkan rasa dendam dan penyakit hati lainnya.

Pada satu sisi, perasaan adalah RASA yang boleh jadi berupa rasa baik maupun buruk. Rasa yang baik, antara lain adalah rasa kasih sayang dan senang, sedangkan rasa buruk adalah rasa iri dan dengki. Rasa seperti ini disebut PERASAAN. Jadi mengenali perasaan adalah mengenali rasa baik dan buruk yang timbul dari pikiran dan dipicu oleh rangsangan dari luar diri. Di sisi lain, PERASAAN tidak sama dengan RASA walaupun kata dasar pe-RASA-an berasal dari kata RASA. Makna dari kata PERASAAN itu lebih terarah ke diri batin seperti perasaan sedih, dengki, gembira atau perasaan jengkel. Ungkapan “Hatiku sedih” hanya bermakna perasaan yang terluka, bukan berarti luka dibagian hati yang terdiri dari segumpal daging.

Makna kata RASA mencakup rasa pada diri jasad dan diri batin atau jiwa. Perih karena terluka pisau adalah RASA di jasad. Sedangkan perih terluka karena kata-kata yang menyakitkan lebih cenderung ke RASA yang bermakna PERASAAN. Kepahaman memaknai perbe-daan makna kata PERASAAN dan kata RASA akan memudahkan pemahaman kata JIWA yang menjadi salah satu fokus dari pembahasan saat ini.

Sejauh ini dapat dipahami PERASAAN berhubungan erat dengan PIKIRAN, pikiranlah pemicu reaksi pada perasaan. Dengan memahami hal ini, maka SUPAYA DAPAT MENENANGKAN PERASAAN seseorang mesti terlebih dahulu MENENANGKAN DIRI atau PIKIRANNYA. Ketika pikiran tenang, perasaan pun tenang. Pertanyaan yang mungkin timbul, “Semudah itukah?” Memang mudah menenangkan pikiran karena kehilangan uang dalam jumlah yang kecil, sehingga perasaanpun segera tenang. Namun tidak demikian ketika uang yang hilang dalam jumlah agak besar. Kemelekatan terhadap benda-benda duniawi membuat sulit untuk mencapai ketenangan atau kedamaian. Kalaupun seseorang dapat melepaskan pikirannya dari kemelekatan, maka hal ini hanya dapat terjadi apabila dikehendaki Allah yang mengaruniai seseorang dengan sifat ikhlas karena mau BERSERAH DIRI, yakni MENERIMA KETETAPAN ALLAH.

Telah disinggung bahwa berpikir adalah suatu proses yang terjadi apabila dalam otak telah terinstal memori sebelumnya. Tanpa memori seperti butiran informasi sebagai dasar berpikir, proses berpikir tersebut belum dapat berlangsung karena berpikir adalah pengaktifan latar belakang pengetahuan yang dipicu oleh stimulus dari luar. Semakin banyak informasi yang tersedia di syaraf-syaraf otak, semakin baik dan lancar pula proses berpikir. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Informasi yang didapati dari pengalaman dan pendidikan sangat menentukan kemampuan berpikir. Seorang nelayan yang dalam kesehariannya bergelut dengan menangkap ikan di laut mengalami kesulitan apabila ditanyakan tentang cara membedah otak yang biasanya dilakukan oleh dokter ahli bedah. Di dalam otak nelayan itu tidak tersimpan memori atau latar belakang pengetahuan cara membedah otak manusia.

Selain KUANTITAS informasi yang tersimpan di otak, KUALITAS informasi juga sangat menentukan proses berpikir. Apabila informasi negatif lebih dominan dari pada informasi yang positif, maka kemungkinan untuk berpikir buruk akan mendominasi pemikiran. Sehingga, setiap muncul stimulus dari luar diri, kecenderungan berpikir buruklah yang akan terjadi. Sedangkan pikiran negatif itu sedikit banyaknya mengganggu ketenangan jiwa. Oleh karena itu, bagi yang mempunyai memori negatif yang lebih dominan, maka pembersihan latar belakang pengetahuan yang negatif ini mesti dilakukan terlebih dahulu. Melalui beberapa latihan yang efektif, memori negatif ini dapat di-DELETE dan di-INSTAL dengan nilai-nilai yang jauh lebih baik sebagai bekal menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Jika tidak demikian, sulit baginya untuk mencapai ketenangan.

Sebagai contoh, seorang remaja yang mempunyai latar belakang pengetahuan berupa informasi negatif bahwa bunuh diri adalah solusi bagi orang yang putus cinta seperti pernah ia saksikan melalui pemberitaan surat kabar atau televisi cenderung melakukan hal yang sama seperti yang ia lihat dari media massa tersebut. Bukan tidak mungkin ketika ia sendiri mengalami putus cinta akan memilih meminum racun nyamuk sebagai pilihan menyelesaikan masalah. Atau saat terlihat tali jemuran, ia berpikir bahwa bunuh diri dengan menggantungkan leher adalah sebuah cara mengakhiri penderitaan yang sedang ia tanggung atau alami.

Tidak demikian halnya, jika di dalam otak remaja tadi telah pernah diinstal nilai-nilai kehidupan yang positif bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang dimurkai oleh Allah, maka kekuatan memori positif tadi akan timbul sebagai tameng untuk tidak melakukan tindakan nekat bunuh diri. Nah, karena perasaan timbul dipicu oleh pikiran, maka pikiran negatif menimbulkan perasaan yang tidak tenang. Hal ini tentunya berlaku sebaliknya, apabila pikiran positif yang lebih dominan, ketenangan pun akan mudah dicapai. Dari penjelasan ini, maka benarlah Firman Allah bahwa beruntung orang yang menjaga kesucian jiwanya.

Sebagai kesimpulan sementara dari sub MENGENAL PERASAAN ini, dapat disampaikan bahwa sebenarnya tidak terlalu sulit memahami yang dimaksud dengan PERASAAN karena kata ini sering diucapkan dalam kegiatan sehari-hari. Sedih, gembira, gusar dan senang adalah contoh dari kata-kata yang mengungkapkan kehadiran perasaan pada seseorang. Sedih berpasangan dengan gembira dan gusar berpasangan dengan senang. Dari contoh tersebut sekaligus terlihat bahwa perasaan seperti halnya pikiran adalah dualitas yaitu berpasang-pasangan. Pikiran terdiri dari pikiran yang baik dan pikiran buruk. Perasaan yang tidak tentram timbul dari pikiran negatif atau buruk.“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yaasiin (36) :36)